Fashion di Kotatanjungpandan: Dari Pasar Tradisional ke Gaya Urban


Dulu, jalan-jalan di Kotatanjungpandan di siang hari hanya diwarnai oleh kemeja kotak-kotak dan celana bahan yang dipakai para bapak-bapak ke pasar. Sekarang, sudut-sudut kota ini mulai ramai dengan anak muda yang memadukan kaos oversized dengan celana cargo, atau perempuan yang berani memakai kebaya pendek dengan sneakers. Perubahannya pelan tapi nyata, seperti tempe yang sedang difermentasi.
Kain Lurik dan Kaos Distro
Pasar Tanjung masih jadi tempat favorit ibu-ibu mencari kain lurik untuk baju keluarga. Tapi kalau kamu ke sana akhir pekan ini, lihatlah bagaimana para remaja membeli kain yang sama untuk dijahit jadi kemeja oversized. "Ini lebih adem daripada kaos polos," kata Rina, mahasiswa semester tiga yang saya temui sedang memilih motif lurik biru tua.
Menurut Tempo, adaptasi kain tradisional jadi bagian streetwear memang sedang naik daun di kota-kota kecil. Di Kotatanjungpandan, tren ini dapat kita lihat dari banyaknya distro lokal yang mulai menjual kemeja batik print dengan potongan lebih muda. Harganya? Masih terjangkau kantong anak kos, sekitar Rp150-200 ribu per potong.
Sepatu Pantai yang Jadi Lifestyle
Kotatanjungpandan punya pantai, dan dulu sandal jepit adalah alas kaki wajib. Sekarang? Sepatu canvas warna-warni justru lebih banyak terlihat di warung kopi pinggir jalan. "Awalnya cuma dipakai buat foto-foto di dermaga, sekarang malah jadi sehari-hari," cerita Andi, barista di kedai kopi yang sering saya kunjungi.
Fenomena ini menarik. Sepatu yang seharusnya untuk aktivitas outdoor justru jadi simbol gaya hidup santai. Saya sendiri punya tiga pasang sepatu canvas berbeda warna, semuanya dibeli di toko sepatu lokal di Jalan Merdeka. Kualitasnya cukup untuk dipakai tiap hari, dengan harga tak sampai Rp300 ribu.
Warung Kopi Jadi Runway
Tempat nongkrong di sini berubah jadi semacam runway mini. Kaum muda tak lagi ragu memakai rompi vest over hoodie, atau menggabungkan kemeja flanel dengan celana chino. Yang menarik, mereka melakukannya tanpa beban. Tidak seperti di kota besar yang kadang terasa terlalu kaku dengan aturan fashion.
Sore ini, di warung kopi langganan, saya melihat seorang pemuda memakai kaos band metal dengan sarung motif kotak-kotak. Kombinasi yang sepintas aneh, tapi entah mengapa terlihat pas di Kotatanjungpandan. Mungkin karena di sini, fashion memang berkembang alami, seperti rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving block.
Fashion di kota kecil ini mungkin tak akan masuk majalah. Tapi justru di situlah pesonanya. Semua terjadi begitu saja, tanpa paksaan, seperti cara laut di Tanjung Pendam yang perlahan mengikis batu karang. Lama-lama terbentuk juga polanya sendiri.
Untuk konteks lebih: sumber resmi